Personel Kodim Simeulue Renovasi dan Hidupkan Kembali Mushola Tua di Makam Tengku di Ujung
SIMEULUE,Teras Aceh. com | Atap bocor, dinding kusam, cat mengelupas. Itulah wajah lama Mushola Makam Tengku di Ujung. Tapi pekan ini, suara palu dan kuas menggantikan sepi. Loreng TNI berbaur dengan sarung warga. Semua demi satu tujuan: menghidupkan kembali rumah ibadah bersejarah itu.
Lewat Karya Bakti, Kodim 0115/Simeulue turun tangan merenovasi total mushola yang berdiri di area makam ulama kharismatik Simeulue tersebut. Ini bukan proyek mercusuar. Ini gotong royong paling murni.
Untuk memastikan Warisan leluhur itu tetap terjaga dan terawat, Puluhan personel TNI dari kodim Simeulue menyingsingkan lengan baju bersama masyarakat. Tak ada yang memerintah. Tak ada yang diperintah. Yang ada hanya semangat sama : selamatkan mushola, jaga marwah sejarah.
Renovasi yang dilakukan tak main-main. Mulai dari Perbaikan atap yang dulu bocor tiap hujan, pengecatan ulang dinding yang sudah memutih dimakan usia, pembersihan makam dan lingkungan dari semak belukar, hingga pembenahan tempat wudhu dan sarana lainnya agar peziarah nyaman beribadah.
Dandim 0115/Simeulue menegaskan, karya bakti ini wujud nyata kepedulian TNI. “TNI lahir dari rakyat. Kalau ada sarana ibadah rakyat yang rusak, apalagi ini situs ulama, kami wajib hadir. Ini soal menjaga sejarah, menjaga iman, menjaga Simeulue,” ujar Letkol. Arm Qamaruszaman.
Bagi Dandim, Makam Tengku di Ujung bukan sekadar kuburan tua. Itu jejak dakwah Islam di pulau ini. Merawat musholanya berarti merawat ingatan kolektif Simeulue.
Karya Bakti Kodim 0115/Simeulue membuktikan satu hal. Sinergi TNI dan rakyat bukan jargon. Ia nyata dalam keringat, debu semen, dan bau cat yang masih basah.
Melalui kegiatan ini dandim berharap mushola Makam Tengku di Ujung dapat menjadi sarana ibadah yang lebih layak serta tetap terjaga kelestariannya sebagai bagian dari warisan budaya dan religi daerah.
Mushola Makam Tengku di Ujung kini tak hanya layak jadi tempat shalat. Ia kembali jadi simbol : bahwa di Simeulue, tentara dan ulama, loreng dan sarung, selalu berdiri di barisan yang sama. Menjaga agama, merawat budaya, mencintai negeri.
Sementara salah seorang warga Kabu, 65, tak kuasa menahan haru. “Dulu kalau beribadah di mushola itu saat hujan bocor dan airnya merembes. Sekarang atapnya sudah bagus. Terima kasih TNI, terima kasih juga kepada pak dandim Simeulue.
" Para peziarah yang dulu enggan singgah karena mushola kumuh kini bisa sujud dengan tenang," Kata Kabu. (ta/as)
Related Articles