Inovatif : Kacabdin Simeulue Sulap Pekarangan Sekolah Jadi Kebun Sawit Mini, Hasilnya untuk Penjaga Sekolah
SIMEULUE, Teras Aceh. com | Pekarangan sekolah biasanya ditanami bunga atau jadi lapangan upacara. Tapi di bawah komando Kacabdin Wilayah Simeulue, sejumlah pekarangan sekolah kini disulap jadi kebun sawit mini.
Langkah tak biasa ini sengaja digagas untuk menambah penghasilan para penjaga sekolah yang selama ini hidup pas-pasan.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Simeulue, M. Daud, S.Ag., M.Pd. melihat banyak pekarangan sekolah yang luas tapi terbengkalai. Daripada jadi semak, lebih baik ditanami sawit yang punya nilai ekonomi.
“Ini ikhtiar kita. Penjaga sekolah itu garda terdepan. Gajinya kecil dan saat ini sudah tidak bisa dianggarkan lagi melalui dana BOS, kerjanya 24 jam. Kita bantu mereka punya penghasilan tambahan dari hasil kebun di sekolah,”kata Kacabdin Simeulue, Senin, 4 Mei 2026 diruang kerjanya.
Program ini sudah mulai berjalan di beberapa SMA/SMK di Simeulue. Bibit sawit ditanam rapi di area pekarangan yang kosong, dikelola langsung oleh penjaga sekolah dengan pengawasan pihak sekolah.
hasil panen sawit nanti sepenuhnya untuk penjaga sekolah. Mulai dari biaya pupuk, perawatan, hingga nanti penjualan, akan didampingi pihak sekolah dan Cabdin.
“Kalau 20 batang sawit saja berbuah, sebulan bisa dapat lima ratus sampai dua juta rupiah tambahan. Lumayan untuk beli beras dan biaya sekolah anaknya,” Tutur M. Daud.
Kacabdin menegaskan program ini bukan alih fungsi sekolah jadi kebun. Lahan yang dipakai hanya pekarangan kosong yang tidak mengganggu KBM. Justru siswa bisa belajar langsung tentang pertanian dan kewirausahaan dari kebun di sekolah mereka.
“Ini pendidikan karakter. Siswa lihat bahwa sekolah peduli sama penjaganya. Penjaga juga merasa dihargai. Lingkungan sekolah jadi hijau dan produktif,” tambahnya.
Para kepala sekolah menyambut positif. Lahan yang dulu gersang kini mulai hijau. Penjaga sekolah lebih semangat karena merasa diperhatikan.
Kacabdin Simeulue berharap program tanam sawit di pekarangan sekolah ini bisa direplikasi di semua SMA/SMK se-Simeulue. Bahkan bisa jadi percontohan untuk daerah lain.
“Kalau sekolah bisa mandiri, warganya sejahtera, mutu pendidikan pasti ikut naik. Ini baru awal. Kita akan kawal sampai panen,” tutup Kacabdin.
Dari pekarangan sekolah, kini tumbuh harapan baru. Bukan hanya sawit, tapi juga kepedulian. (ta/as)
Related Articles