KMP Teluk Sinabang Dan Aceh Hebat I Kembali Berlayar, Ir. Iskandar DPRA Apresiasi Respons Cepat Semua Pihak
SIMEULUE – Kabar baik akhirnya kembali menyapa masyarakat Kepulauan Simeulue. Setelah sempat mengalami gangguan pelayanan yang membuat penumpang terlantar dan aktivitas masyarakat terganggu, KMP Teluk Sinabang kembali berlayar melayani rute Sinabang–Kuala Bubon, Aceh Barat.
Kembalinya kapal penyeberangan tersebut menjadi angin segar bagi masyarakat Simeulue yang selama ini sangat bergantung pada transportasi laut untuk bepergian, mengangkut kebutuhan pokok, hingga menjalankan berbagai aktivitas ekonomi.
Kondisi tersebut mendapat apresiasi dari Anggota Komisi I DPR Aceh, Ir. Iskandar, yang sebelumnya ikut melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak menyikapi keluhan masyarakat terkait terganggunya pelayanan KMP Teluk Sinabang.
Iskandar menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada ASDP, Dinas Perhubungan Aceh, UPP Kelas III Calang, Syahbandar Aceh Barat, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, Pemerintah Kabupaten Simeulue, serta seluruh pihak dan otoritas terkait yang telah merespons dan menindaklanjuti persoalan tersebut.
Menurut Iskandar, cepatnya respons terhadap keluhan masyarakat merupakan bagian penting dari pelayanan publik, terlebih bagi masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan seperti Simeulue.
“Alhamdulillah, dari hasil koordinasi kita, kapal saat ini sudah kembali melayani penumpang rute Sinabang–Kuala Bubon. Apresiasi sekaligus terima kasih kepada semua pihak yang telah responsif menindaklanjuti koordinasi ini,” ujar Iskandar, Kamis (10/9/2026).
Tak hanya KMP Teluk Sinabang, kabar baik juga datang dari jalur Sinabang–Calang. Iskandar menyampaikan bahwa Awalnya rute Sinabang–Calang baru di buka pada 14 September 2026, namun setelah kita lakukan komunikasi dan koordinasi bersama pihak terkait, akhirnya KMP Aceh Hebat 1 dipercepat Pelayarannya melayani rute Sinabang - Calang, mulai 10 September 2026.
Kembali beroperasinya dua kapal tersebut dinilai sangat berarti bagi masyarakat Simeulue. Sebab, bagi daerah kepulauan, transportasi laut bukan sekadar sarana perjalanan, tetapi menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.
Ketika kapal berhenti beroperasi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penumpang. Aktivitas perdagangan, distribusi barang, kebutuhan keluarga, hingga masyarakat yang harus bepergian ke daratan Aceh ikut terdampak.
Karena itu, kembalinya pelayanan kedua kapal tersebut menjadi harapan baru bagi masyarakat agar mobilitas orang dan barang kembali berjalan normal.
“Sekali lagi, apresiasi dan terima kasih kepada semua pihak terkait. Alhamdulillah, kapal kembali melayani penumpang seperti biasa,” tandas Iskandar.
Bagi masyarakat Simeulue, berlayarnya kembali kapal bukan sekadar kabar tentang sebuah kapal yang meninggalkan pelabuhan. Ini adalah tentang terbukanya kembali akses, bergeraknya kembali roda kehidupan, harga barang Menjadi normal dan hadirnya harapan bagi masyarakat di sebuah pulau yang dipisahkan oleh laut dari daratan Aceh.
(ta/as)
Related Articles