Mengenal Kesenian "Rapa'i Angguk" Dari Kabupaten Simeulue
Penulis: Moris Mesasilai
(Pemerhati Budaya).
Kesenian Rapa'i Angguk merupakan salah satu dari sekian banyak kesenian tradisional yang ada di Kabupaten Simeulue yang merupakan warisan budaya yang kaya akan nilai sejarah dan bernuansa spiritual.
Pada awalnya, Rapa'i Angguk merupakan bagian dari kesenian Rapa'i Dabus, sebagai sebuah kesenian khas Aceh yang telah dikenal oleh masyarakat Simeulue sejak lama.
Seiring dengan berjalannya waktu, kesenian Rapa'i Angguk berkembang menjadi sebuah kesenian yang berdiri sendiri.
Melalui tulisan ini, penulis berharap para pembaca akan mengenal lebih dekat tentang kesenian tradisional Rapa'i Angguk yang kaya akan daya tarik, dinamis serta heroik itu.
Kesenian Rapa'i Angguk dimainkan oleh sekurang-kurangnya 5 (lima) personil untuk membawakan tari Angguk dengan diiringi oleh sedikitnya 3 atau 5 orang penabuh gendang atau rapa'i (dalam bahasa Simeulue disebut "rampano") dan 1 orang Syekh yang memimpin dan membawakan syair atau radat bersama-sama dengan penabun/pemukul rapa'i (rampano).
Syair atau radat Rapa'i Angguk sebagaimana halnya pada syair atau radat kesenian debus, pada dasarnya berisikan kalimat puji-pujian kepada Allah swt dan Rasulullah saw, dituturkan dalam bahasa Aceh dan bahasa Simeulue yang kemudian berkembang menjadi syair-syair kekinian sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pengarang syair itu sendiri.
Sementara penari Angguk dalam posisi bersimpuh melakukan gerakan-gerakan tangan sebagai pembuka yang disebut "jaroe" atau "jaroi" dalam dialek Simeulue.
Setelah membawakan beberapa ragam gerakan tangan, para penari mengambil rapa'i (rampano) yang ada dihadapan mereka dan menggunakannya dengan mengangkat, mengayun serta memutar rapa'i (rampano) tersebut sedemikian rupa untuk beberapa jenis gerakan dengan mengikuti rithme dan kecepatan pukulan rapa'i (rampano) yang biasanya semakin keujung syair/radat, temponya semakin cepat hingga ada kode tertentu dari pemukul rapa'i (rampano) sebagai aba-aba berhenti.
Setelah berhenti beberapa saat, kemudian Rapa'i Angguk dimulai lagi untuk putaran kedua sebagai penutup.
Kesenian Angguk sebagai bagian dari kesenian Rapa'i Debus ini dahulunya dilaksanakan pada setiap malam Jum'at. Sangat disayangkan dewasa ini kesenian tersebut nyaris tidak terdengar lagi sebagai rutinitas didesa-desa pada umumnya, kecuali jika ada acara-acara atau event tertentu seperti pada perhelatan perkawinan, perayaan 17 Agustus dan acara tertentu lainnya.
Kesenian Rapa'i Angguk merupakan salah satu dari identitas budaya Simeulue yang perlu dilestarikan. Sebagai warisan leluhur, Rapa'i Angguk mengandung nilai-nilai spiritual, sosial, dan estetika yang dapat memperkaya jiwa dan mempererat tali silaturahmi antar sesama warga.
Dikhawatirkan kesenian ini akan semakin redup dan bahkan hilang baik karena faktor sosial, maupun semakin berkurangnya peseni Rapai Angguk itu sendiri karena usia yang semakin sepuh ataupun meninggal dunia, maka diharapkan melalui kebijakan pemerintah agar kiranya kesenian Rapa'i Angguk ini diproteksi dan dilindungi dari kepunahan dengan beberapa kebijakan antara lain;
a. Menggerakkembangkan kembali kesenian tersebut dikalangan masyarakat terutama sanggar-sanggar yang ada didesa dan juga di sekolah-sekolah.
b. Melalui instruksi Bupati Simeulue agar dinas teknis, dalam hal ini Dinas Pendidikan Kabupaten Simeulue dan Cabang Dinas Pendidikan Propinsi Aceh di Kabupaten Simeulue menjadikan kesenian Rapa'i Angguk menjadi mata pelajaran muatan lokal ditingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas sederajat sebagaimana maksud daripada Peraturan Bupati Simeulue Nomor: 34 Tahun 2020 tentang Muatan Lokal sebagai landasan regulasinya.
c. Melaksanakan event tetap berupa festival Rapa'i Angguk untuk tingkat umum dan antar sekolah.
d. Menetapkan kesenian Rapa'i Angguk sebagai ikon kesenian tradisional Simeulue disamping kesenian tradisional lainya.
Dengan semakin eksis dan dikenalnya kesenian tradisional Rapa'i Angguk sebagai out put dari kebijakan tersebut diatas dalam memperkenalkan budaya khas Simeulue, juga dapat meningkatkan rasa kebanggaan masyarakat sebagai jati diri serta dalam rangka promosi dunia pariwisata dan kekayaan budaya.
Oleh karena itu, penting bagi generasi penerus Simeulue untuk mengetahui, mempelajari, mengembangkan dan melestarikan kesenian Rapa'i Angguk tersebut agar tetap hidup dan eksis di era modern ini.
Dengan demikian, warisan budaya ini dapat terus menjadi sumber inspirasi dan kebanggaan bagi masyarakat Simeulue dari masa ke masa.
Sinabang, 12 Mai 2026.
Penulis: Moris Mesasilai
(Pemerhati Budaya).
Related Articles